Jumat, 07 Desember 2007

Transportasi


Sektor Transportasi Darat Menunjang Pembangunan Daerah

Masalah transportasi darat merupakan bahasa lumutan yang dari waktu ke waktu terus menjadi persoalan. Dengan dalih terbatasnya dana, maka banyak ruas jalan yang tak mendapat perhatian sebagaimana mestinya, termasuk kondisi jalan di dalam kota.
Sudah sejak lama masalah transportasi dan kondisi jalan selalu menjadi pembicaraan dan jeritan relung hati yang paling dalam bagi masyarakat di daerah pedalaman khususnya. Akibat kondisi jalan yang tidak memadai, berakibat kepada kegiatan perekonomian masyarakat pedalaman menjadi terkendala.
Bukan hanya arus orang yang mengalami hambatan dan bahkan putus total, tetapi arus lalu lintas barang juga mengalami kendala yang sama - sama serius.
Berbagai potensi kekayaan alam seperti hasil bumi juga sulit dipasarkan. Apalagi di musim penghujan, kondisi jalan sangat luar biasa buruk.
Dalam memasarkan hasil buminya masyarakat sangat tergantung kepada kondisi jalan, sehingga tidak heran jika sering terdengar banyak potensi agrobisnis yang tak bisa tergali secara maksimal.
Dampak lain yang sangat penting diakibatkan oleh suatu daerah jika memiliki kondisi transportasi yang buruk adalah menimbulkan keengganan bagi investor untuk menanamkan investasinya.
Sebanyak apa pun potensi suatu daerah yang dimiliki, jika tidak ditunjang serta tidak diimbangi dengan struktur dan infrastruktur yang menunjang, maka potensi itu akan sangat sulit dimanfaatkan dan dikelola secara maksimal oleh pemerintah. Termasuk dampak tingginya harga - harga kebutuhan pokok masyarakat karena beban biaya angkut atau operasional.
Masalah kondisi transportasi, biasanya merupakan salah satu pertimbangan investor sebelum menanamkan modalnya di suatu daerah tertentu.
Dengan demikian sektor transportasi darat adalah salah satu sektor yang amat penting untuk menunjang pembangunan suatu daerah. (jon)

Kehidupan Didesa


Warga Dusun Balai Nanga Dambakan Suplai Listrik PLN

Sinar mentari perlahan mulai redup menyambut sang malam, dengan diiringi bunyi jangkrik, riak air sungai yang bergemericik, tak dapat mengalahkan suara deru mesin genset yang bersahutan memecah ke sunyian malam di Dusun Balai Nanga Desa Penyeladi.
Bagi mereka yang tak memiliki aliran listrik, gelap dan sunyi sudah begitu akrab. Tak ada tayangan televisi atau suara musik yang dapat menghibur kepenatan hati. Padahal Dusun yang dihuni lebih kurang 400 jiwa ini, sejak 1 tahun lalu sudah terpasang jaringan listrik.
Namun hingga kini, tiang-tiang listrik yang terpasang di tengah pemukiman warga tak berfungsi. PT PLN Cabang Sanggau, tak kunjung menempatkan mesin pembangkitnya untuk mensuplai aliran listrik bagi warga yang bermukim disana.
“Sejak Tahun lalu, tiang-tiang listrik ini sudah terpasang. Tapi sampai sekarang tindaklanjut untuk memasang mesin pembangkit sepertinya masih belum teralisasi,” ungkap Kepala Dusun Balai Nanga, Hidayat HS, ditemui beberapa waktu lalu.
Kata Hidayat, waktu pemasangan tiang berlangsung, keyakinan warga kalau PT PLN Cabang Sanggau bakal secepat mungkin merealisasikan mesin pembangkit di tempat mereka begitu besar. Sebab untuk memasang jaringan, tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Keinginan warga mendapatkan suplai listrik dari pemerintah cukup beralasan. Selain populasi penduduk di Dusun Balai Nanga tergolong besar, minimnya informasi juga merupakan salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat disana.
Tak heran, bila masyarakat di Dusun Balai Nanga lebih lamban mengetahui perkembangan pembangunan dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
Memenuhi kebutuhan informasi, masyarakat yang tidak memiliki genset, menggunakan media radio.
Hal senada diutarakan Ketua RT 8 Dusun Balai Nanga, Ruslan berharap, Pemkab Sanggau dapat memperhatikan warga di Dusun Balai Nanga, memberikan bantuan mesin genset berukuran besar yang dapat mensuplai kebutuhan listrik masyarakat disana.
“Jaringan sudah ada, kalau mendapatkan bantuan genset tentunya jaringan yang sudah terpasang dapat kita manfaatkan. Untuk operasional, tentunya masyarakat dapat membayar iuran setiap bulannya,” harap Ruslan. (jon)

Jamban Dipinggiran Sungai Kapuas


Jamban di Sepanjang Sungai Kapuas, Perlu Penataan Agar Tidak Terkesan Kumuh

Sanggau BERKAT.
Penataan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sanggau di sepanjang tepian Kapuas di Muara Kantuk patut diacungi jempol.
Keberhasilan penataan kawasan tersebut, mampu membuat kawasan Kantuk menjadi tempat yang indah bagi masyarakat untuk menikmati pemandangan sungai Kapuas yang membentang disertai dengan pemandangan matahari tenggelam yang cukup indah untuk dinikmati.
Namun sayangnya keindahan tersebut menjadi berkurang dengan adanya deretan jamban kayu terapung di sepanjang tepian kawasan tersebut, yang penataannya tidak teratur, sehingga masih terkesan kumuh ditengah-tengah keindahan Muara Kantuk yang menjadi tempat bersantai bagi masyarakat Sanggau.
Jamban yang merupakan tempat bagi warga sekitar untuk melakukan aktivitas mandi, mencuci dan sebagainya, apabila ditata dengan baik, mungkin dapat menjadi salah satu keunikan tersendiri yang dapat mencerminkan kehidupan warga yang tinggal di tepi sungai Kapuas.
Memang tidak dapat dipungkiri, kebiasaan masyarakat beraktivitas di sungai, tidak dapat dilepaskan, karena sudah menjadi tradisi bagi masyarakat itu sendiri.
Apabila pemerintah jeli, bangunan-bangunan jamban terapung yang kodisinya sudah banyak yang rusak tersebut, apabila dibangun baru dan di cat seragam, akan menambah keindahan, dikawasan yang lebih dikenal dengan nama Water front City Muara Kantuk tersebut, dan bahkan dapat mencerminkan keseriusan pemerintah untuk mewujudkan Kota Sanggau yang indah. (jon)